Saturday, June 20, 2020

Metamorfosis

Rata-rata manusia hanya mengagumi sayap kupu-kupu yang terlihat mengepak dengan indahnya. Mereka hanya melihat apa yang tampak oleh kedua mata mereka tanpa berusaha menyadari betapa sang kupu-kupu harus melewati proses yang panjang untuk mencapai keindahan sayap yang seperti ini. "Kupu-kupu juga berproses. Begitu juga aku." — Nadhira Arini, Influencer & Penulis Buku.

Sejak lulus dari SMA hingga saat ini adalah masa-masa yang tidak mudah untukku. Begitu banyak tantangan terjadi di masa-masa ini. Rasanya ingin menyendiri saja di bulan. Ingin kabur saja maksudku. Enggan menerima dan menghadapi serangkai tantangan ini. Merasa tidak berdaya. "Ya Allah... mengapa ini terjadi padaku?" pikirku selalu setiap diberi tantangan itu.

Jatuh. Bangkit. Jatuh lagi. Bangkit lagi. Jatuh lagi. Bangkit lagi. Jatuh lagi. Bangkit lagi. Dan begitu seterusnya... Sungguh, siklus ini membuatku lelah. Menangis juga.

Namun, aku baru saja sadar bahwa serangkai tantangan ini ternyata kebaikan yang Allah berikan kepadaku. Bahkan, ini juga bagian dari do'aku. Do'aku, yaitu semoga aku bisa menjadi manusia yang lebih dewasa dan tangguh. Semoga aku bisa berubah. Tak hanya fisik, aku juga harus dewasa secara emosi dan mental. Dan, ya... ini cara Allah untuk mengabulkan do'aku. Memang caranya tidak menyenangkan di mataku sebagai manusia. Tapi, bagi Allah, inilah cara yang terbaik. Allah Maha Tahu Yang Terbaik. Alhamdulillah aku juga merasakan progress-progress kecil yang terjadi pada diriku. Kemampuan resiliensiku semakin baik. Dan aku cukup mampu mengubah pandangan negatif menjadi pandangan positif atas segala tantangan yang aku hadapi.

Sesungguhnya perubahan pandanganku terhadap serangkai tantangan ini juga dirangsang oleh tulisan-tulisan positif Mbak Dhira. "My Words Might Heal You". Yes, Mbak Dhir, your words do heal me dengan campur tangan Allah tentunya. Awalnya, kalimatku terkesan memprotes takdir Allah "Ya Allah... mengapa ini terjadi padaku?" bisa berubah menjadi kalimat yang lebih positif (kepada diriku sendiri) "Iya, aku paham kejadian ini tidak menyenangkan bagimu. Tidak mudah pula. Coba deh periksa lagi do'a-do'amu! Bukankah kamu yang meminta Allah untuk mengubahmu menjadi manusia yang lebih dewasa dan tangguh dalam menghadapi tantangan-tantangan di kehidupan orang dewasa? Kalau Allah gak latih kamu dari sekarang, nanti ketika kamu sudah benar-benar terjun ke dalam kehidupan orang dewasa sesungguhnya, kamu bakal kesulitan banget. Karena Allah sayang, makanya dilatih dari sekarang." :')

Alhamdulillah 'ala kulli hal. Thanks Allah & Mbak Dhira.

Postingan Pertamaku

Alhamdulillah hari ini akhirnya keinginanku membuat blog sebagai wadah untuk menulis jurnal terwujud! Yayyy...

Itulah kalimat pertama dalam postingan pertama blog-ku ini. Sejujurnya keinginan itu sudah ada cukup lama. Kati Morton (therapist & Youtube content creator), Mbak Dhira (Nadhira Arini, influencer & penulis buku), Kak Afifah (salah satu kakak mentor keagamaanku saat SMA), dan Kak Hamidah (narasumber Kajian Akhwat Psikologi UNJ) yang menginspirasiku untuk memulai jurnal. Bagiku, menulis jurnal itu kebutuhan. Beberapa harapanku dari menulis jurnal ini adalah sebagai berikut:
  1. Aku bisa menjadi manusia yang lebih baik, tangguh, dan positif;
  2. Aku mampu menemukan hikmah dan kebaikan di setiap kejadian, baik kejadian yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan;
  3. Aku bisa lebih banyak bersyukur atas segala takdir dan pemberian Allah;
  4. Aku mampu melihat progress-progress yang terjadi dalam diriku, sehingga aku mampu mengapresiasi diriku atas progress-progress tersebut;
  5. Aku bisa lebih cerdas dalam kecerdasan emosi;
  6. Aku dapat meningkatkan kemampuan menulisku.

Lalu, mengapa aku memilih judul blog ini "Jurnal Berwarna Jingga"?
Karena warna jingga di mataku menggambarkan keceriaan. Aku berharap hidupku bagaikan warna jingga. Keceriaan selalu hadir di setiap hariku, sekalipun situasinya kurang menyenangkan atau bukan yang aku harapkan terjadi. :)